Cerita Sex

NaomiStory – Rama & Shinta – Part III

Suara rintik2 hujan yg mengenai atap seng tempat parkiran motor menghasilkan suara gemuruh yg sungguh mengganggu hingga membuat Rama terbangun di pagi ini. Namun hujan di pagi hari adalah sebuah hal terindah yg akan dia rindukan kelak karena menyimpan banyak memory indah. Rama menggeliat, kemudian mengucek2 matanya lalu duduk. Hal pertama yg dilakukannya setelah kesadarannya sudah mencapai 100% adalah mengambil HP kemudian mengeceknya. “Met bobo’ jg ya, Have a nice dream”, itulah balasan chat semalam yg belum sempat dibaca oleh Rama dari Naomi. Cukup sebaris kalimat dari Naomi sudah cukup membuat paginya Rama menjadi berbunga2.

Dua hari adalah waktu yg sangat singkat untuk mencintai seseorang, namun Love at First Sight bukanlah bualan. Bukan kata2 gombal untuk merayu, tapi benar2 dirasakan, walaupun kadarnya tidak sebesar cinta Rama pada Cindy, tapi lambat laun mampu mengikis hingga malam2 Rama tidak lagi meratapi kesedihan akibat gagalnya rencana masa depan yg dirajut bersama. “Selamat pagi, jgn telat sarapan ya”, Rama kembali mengirimkan chat pada Naomi di pagi buta ini.

Kutatap langit di pagi hari, kuawali hari dengan doa, semoga satu hari ini bisa, dipenuhi oleh senyum, sayup2 terdengar sebuah lirik lagu yg begitu bermakna membuat Rama terfokus mendengar. Lagu tersebut dari kamar Hendro, si maniak JKT48. Tapi lagu ini benar2 cocok didengarkan di pagi hari, lirik lagu dan nada yg membangkitkan semangat. “Ningsih, makasi sarapannya”, suara dari Joseph, seorang Preman dari Timur yg jg tinggal di kost itu, tapi jarang terlihat.

Tok tok tok, “Rama, nih sarapannya”, ketokan pintu dari Ningsih di kamar Rama. Sesaat kemudian Rama membukakan pintu, lalu Ningsih masuk membawa Nasi Goreng omelet dan teh hangat. “Teteh udah sarapan?”, tanya Rama, “Udah kok, kmu sarapan aja”, jawab Ningsih. “Teh, ada pnya kenalan tukang pijet gak? Badanku pegel semua nih, kmarin abis olahraga”, tanya Rama sambil melahap sarapan paginya, “Eh, teteh aja yg mijet, teteh jago lo”, jawab Ningsih sambil tersenyum. Setelah sarapan, Rama meminum teh hangat, kira2 setengah gelas, lalu sisanya ditaruh kembali di mejanya.

Ningsih sempat pergi ke kamarnya lalu kembali lagi ke kamar Rama membawa minyak untuk pijet. “Nih klo gk percaya, teteh punya minyaknya kok”, kata Ningsih. Rama hanya tersenyum, “Serius nih mau pijetin aku?”, tanya Rama, “Udah, buka baju sono, pake kolor aja”, kata Ningsih. Lalu Rama mengambil sebuah karpet kemudian membentangkannya serta mengambil sebuah bantal. Setelah itu Rama membuka bajunya dan hanya mengenakan celana kolor yg memang sudah dipakainya untuk tidur.

Rama pun tidur tengkurap beralaskan karpet. Ningsih menutup pintu kemudian mulai mengoleskan minyak mulai dari bagian kaki. Diurutnya kaki Rama dengan penuh kesabaran. “Gmana, pas gak? Atau kurang keras?”, tanya Ningsih, “Pas bgt teh, enak bgt”, jawab Rama. Setelah beberapa saat mengurut bagian kaki hingga ke paha, kini Ningsih beralih ke punggung. Jari2 Ningsih mulai bermain, jempolnya begitu kuat menekan punggung Rama dan membuatnya sedikit kesakitan. Hampir 2 jam Rama dipijat, rupanya Ningsih selain perhatian juga pemijat professional. Dia benar2 mengetahui titik2 pijatan.

Setelah dipijat, Ningsih pun kembali ke kamarnya, dan Rama mulai membersihkan dirinya kemudian mandi. Hari ini ia berencana untuk ikutan casting. “Selamat pagi Rama, maaf baru bales, btw, ntar sore ke taman lagi gak?”, isi chat dari Naomi yg dibaca oleh Rama setelah mandi. “Iya, gpp, trgantung, klo kmu ksana, aku jg ksana”, jawab Rama. “Ya udah, ntar ketemu jam 4 aja ya, coz aku gk bisa sampe malem”, jawab Naomi. Chat ini kembali membuat Rama sumringah, bibirnya tersenyum karena bahagia. Kebahagiaan membuatnya semangat menjalani aktifitas. Semua berawal dari hati yg bahagia. Rama melakukan casting dgn sempurna. Dia berharap banyak dari casting, karena selama ini, dia hanya hidup dari sisa tabungan dan pesangon dari mantan klubnya.

Tepat Pukul 4 Sore

Rama duduk di tempat biasa, cuaca yang hangat karena perpindahan dari siang menuju malam. Seakan2 tidak ingin terlambat sedetikpun, Rama tiba 15 menit sebelum pukul 4 sore. Dengan wajah yg sumringah Rama menatap langit. Langit biru dgn sedikit awan yg bergulung, tampak begitu cerah, sudah tidak ada lagi bayangan mantannya yg begitu mengganggu. Berbagai pertanyaan dan bahan obrolan telah dipersiapkan olehnya, agar pertemuannya kali ini akan lebih berkualitas.

Rama mengambil sebongkah batu, kemudian mengukir tanah berumput yg didudukinya dgn tulisan NAOMI. Pertanda apakah ini? Cintakah? Jantungnya berdegub lebih kencang dari biasanya. Tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan di wajahnya. 30 menit berlalu, masih belum ada tanda2 kedatangan Naomi. “Aku udah di taman”, chat dari Rama belum dibaca oleh Naomi. “Mungkin aja kena macet”, ungkapan Rama di dalam hatinya, berusaha menenangkan dirinya sendiri.

Pukul 5 Sore

Satu jam sudah Rama menunggu di taman ini, rasa resah menyelimuti dirinya, jantungnya yg berdegub kencang karena bahagia berubah menjadi rasa gelisah yg teramat dalam. Satu jam adalah waktu yg cukup lama menunggu seseorang. Chat yg dikirimnya belum dibaca oleh Naomi. Rama pun duduk menekuk lutut dan kepalanya tertunduk lesu ditopang oleh kedua lututnya.

Pukul 6 kurang 15 menit

Perasaan putus asa bergelayut di hati Rama. Tidak ada lagi semangat di dalam dirinya. Posisinya tidak berubah sejak tadi, menandakan lesu yg amat sangat. Gadis yg hampir saja dapat menghapus nama Cindy dari hatinya kini tidak datang menemuinya. Perasaan kecewa berubah menjadi khawatir, “Jangan2 terjadi apa2”, hati Rama menjadi bergejolak. Rama mencoba menelpon Naomi berkali2, namun ternyata nomor Naomi tidak aktif. Berbagai usaha dilakukan namun semuanya gagal. Rama pun kembali tertunduk lesu.

Pukul 6 Kurang 5 menit

Di tengah mata yg terpejam, Rama menghela nafas yg panjang. “Rama”, tiba2 sebuah suara menyadarkannya. Sontak Rama pun berdiri ketika melihat suara itu dari mulut Naomi. “Maaf bgt ya, kmu gk marah kan?”, tanya Naomi, “Aku gak marah, tapi aku khawatir, kenapa sih gk bales chat aku?”, protes Rama yg benar2 khawatir dgn keadaan Naomi.

“Maaf bgt ya, aku tadi ada kegiatan yg bener2 gk bisa ditinggal”, “Trus HP aku mati, lowbatt, lupa bawa powerbank”, “Sebenarnya aku ada show di theater ntar lagi”, “Tapi aku sempetin kesini buat ketemu kamu, walaupun bentar”, Naomi berusaha menjelaskan. “Show apa? Theater apa?”, tanya Rama yg sedikit kebingungan. “Maaf bgt ya, aku ksini cuma mau ketemu bentar aja, aku pergi ya, aku udah terlambat”, kata Naomi. Wajahnya tampak sedikit lusuh, berkeringat, nafasnya tersengal seperti orang yg sedang kelelahan. “Aku pergi dulu yaa, Daaa”, kata Naomi seraya berjalan mundur meninggalkan Rama.

Rama sedikit kecewa karena penantiannya yg hampir 2 jam itu terasa sedikit sia2. Tiba2 Naomi kembali menoleh dan sedikit berteriak, “Minggu ya, kita jln klo ada waktu”, kata Naomi, kemudian Rama memberikan jempol tanda setuju. Di tengah kesibukannya, Naomi masih menyempatkan waktu menemui Rama. Apakah perasaan kedua insan ini sama? Hanya mereka berdua yang tau.

Rama pun kembai ke kostnya, wajahnya sedikit murung, walaupun hatinya tidak terlalu kecewa karena pertemuan yg singkat tadi sudah cukup bagi Rama untuk membuktikan kalau Naomi adalah seorang wanita yg komitmen. Langkah kaki Rama terdengar dari ruangan tengah Kost, saat dibuka pintu, betapa terkejutnya ia. Jono, Ningsih, Yanti, Lilis, Joseph, Hendro dan 2 orang temannya sedang duduk dan makan2 di ruang tengah.

“Siapa ulang tahun nih?” Tanya Rama, “Udah, duduk sini lu, Kang Jono dapet kerjaan nih, kita ditraktir”, jawab Yanti. Rama pun girang mendapatkan berita bahagia tersebut, lalu mengambil nasi dan mengambil sepotong ayam bakar. Woww, sungguh menu yg komplit, Ayam Bakar, Sate Taichan, Martabak Manis, Es Kelapa Muda, semua ada di satu meja. Bener2 pesta besar nih. “Eh, yg dapet kerjaan Kang Jono atau sis Jeni nih?”, tanya Rama, disambut dengan gelak tawa penghuni kost lainnya, kecuali 2 orang teman Hendro yg bingung.

Hendro tampak menambah nasinya, “Eh sembarangan kamu, Jeni wes Modyar”, kata Jono dgn logat Jawanya yg kental. “Aku wes ketrimo kerjo seng halal saiki”, “Ojo nyebut2 Jeni, aku ae isin”, Hmmmm, mungkin hanya Lilis dan Hendro yg mengerti bahasanya tapi sedikit tidak intinya adalah Jono sudah kerja halal sekarang. Lilis dan Yanti tampak akrab kembali. Mereka semua tampak berbahagia, sebuah kost sederhana yg diisi oleh orang2 sederhana dgn latar belakang berbeda2, namun suasana seperti ini akan selalu dirindukan oleh para penghuni kost.

Jono lelaki berusia 37 tahun, berjuang hidup dengan menjadi “waria”, walaupun dia sendiri mengaku kalau dia adalah cowok tulen, dan terpaksa melakukan itu demi anak istrinya di Kampung. Namun kini dia telah mendapatkan pekerjaan yang halal, semua penghuni kost begitu bahagia. Kecuali satu orang, ya, dia adalah Ningsih, sedari tadi wajahnya hanya murung saja.

“Teteh kenapa? Perasaan dari tadi murung terus”, tanya Rama yg bingung melihat Ningsih. Lalu seketika semua mata melihat ke arah Ningsih. “Wes, ojo ditanyai, Ningsih sedih mau pisah ama aku, hehehe”, jawab Jono. Kemudian semua mata beralih ke Jono, mereka bingung, “Pisah? Maksudnya?”, Yanti bertanya, “Iya, lusa Kang Jono balik ke Jawa Timur, udah gak di sini lagi”, jawab Ningsih dgn wajah sendu. Sontak semua penghuni kost terkejut, semua protes, tidak ada yg ingin berpisah dgn Jono. Seketika mereka semua hilang semangat, kecuali Hendro yg tampak sedih namun masih lahap.

Ningsih kemudian menangis dan memeluk Jono, “Udah ahh, kok kyk mau ditinggal mati aja”, “Kan masih ada HP, masih bisa berhubungan”, “Hargai donk saya, udah capek2 beliin makanan, abisin”, Kata Jono berusaha mencairkan suasana kembali. “Huuuuu”, tiba2 suara isak tangis terdengar, ternyata Joseph menangis, sejak tadi dia hanya diam dan makan lalu ikut terbawa suasana. Sontak saja, tangisannya bukannya membuat yg lain sedih, semuanya tertawa terbahak2 melihat Joseph nangis. Wajahnya yg serem dan badannya yg besar, namun suara tangisannya seperti anak kecil.

Ningsih yg tadinya menangis jadi terbahak2 melihat seorang preman menangis tersedu2. Nasi sampe menyembur keluar dari mulut temannya Hendro karena tidak kuat menahan tawa. Jono jadi terbatuk2 karena tersedak, baru kali ini mereka melihat seorang preman sangar menangis tersedu seperti anak bayi. “Woiii, lagi sedih nih, kok malah pada ngetawain”, kata Joseph yg bingung melihat teman2nya tertawa.

Kebersamaan dan kesederhanaan membuat mereka makin erat tanpa sekat tanpa peduli latar belakang dan profesi mereka masing2. Ketika salah satu diantara mereka akan pergi dan berpisah, bagaikan kehilangan sesosok keluarga yg sudah terlanjur disayangi. Tapi bagaimanapun, Jono punya keluarga sendiri yg harus dihidupinya. Pertemuan dan perpisahan menjadi kepastian dalam hidup yg tak bisa dihindari. Kebersamaan seperti ini akan sangat dirindukan. Rama melihat tawa mereka satu persatu, disimpan dalam memorynya sebagai bahan cerita untuk keturunannya kelak.

Hari semakin malam, mereka semua kembali ke kamar masing2, kecuali Joseph, dia keluar memakai jaket berwarna hitam, memacu sepeda motornya entah kmana. Rama pun masuk ke kamarnya, sementara itu terdengar suara begitu ribut dari kamar Hendro, rupanya dia dan teman2nya sedang asik menonton konser JKT48 di laptopnya. Entah apa yg mereka teriakkan. Kriiiiinggg, HP Rama berbunyi, ada telpon masuk, tak lama kemudian Rama berlari mengambil HP lalu mengangkatnya. “Halo, lagi ngapain Rama?”, suara Naomi benar2 menyejukkan hati Rama, “Gk ada nih, lagi diem aja, knp?”, jawab Rama, “Belum tidur?”, tanya Naomi kembali, “Belum ngantuk nih”, jawab Rama kembali, “Jalan yuk”, ajakan dari Naomi sempat membuat Rama bingung, saat dilihat jam di HPnya, sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Tapi ajakan itu tak mungkin ditolak oleh Rama. “Ketemu dmana nih?”, tanya Rama. Akhirnya mereka berdua sepakat bertemu di sebuah taman di dekat Plaza Senayan. Rama memesan ojek online.

Pukul 10 lewat 30 menit malam hari

Rama turun tepat di samping halte bus depan Plaza Senayan, lalu berjalan menuju taman. Mereka janjian bertemu di sebuah pohon beringin besar yg terletak di samping sebuah Cafe yg buka hingga tengah malam. Dari kejauhan tampak Naomi sedang duduk sendirian sambil memegang HP, dan sesekali menyibak rambut panjangnya. Rama berjalan mendekatinya kemudian duduk di sampingnya secara tiba2. “Udah lama ya?”, tanya Rama, “Nggak kok, baru aja”, jawab Naomi. Tampak dari wajah Naomi, sepertinya dia menyimpan sesuatu yg ingin di share, tapi Rama tidak ingin terburu2, dan ia ingin semua mengalir apa adanya.

Hampir 5 menit mereka terdiam, menghela nafas, menatap ke depan dan tidak saling melihat sama sekali. Rama mencari sesuatu di belakangnya, kemudian ia menemukan sebongkah batu, lalu dilemparnya kemudian ditangkap. Dilempar lagi, kemudian di tangkap lagi. Naomi melihat ke batu tersebut, memperhatikannya, seolah2 tidak ada yg perlu dibicarakan, hanya ingin bertemu saja.

Naomi mengambil ikat rambut dari saku celananya, kemudian merapikan rambutnya dan mengikatnya di belakang membentuk ekor kuda. Rama melihatnya, batu yg tadi dilempar2 kini digenggamnya dgn erat. “Wowww, begitu mulus leher Naomi”, kata Rama dalam hati, sambil menelan ludah. “Hmmmmm, kmu masih kepikiran ama Cindy gak?”, tanya Naomi sambil menghela nafas dalam.

Pertanyaan dari Naomi menjadi pertanda bahwa malam ini akan panjang.

Rama: Klo boleh jujur, aku udah gak pernah mikirin Cindy lagi
Naomi: Udah 100% lupa?
Rama: Ya nggak 100% juga, tapi 90% udah aku lupain, klo kamu?
Naomi: Aku pingin bgt ngelupain Stefan, tapi setiap dia dateng ke rumahku, perasaan itu selalu muncul
Rama: Berarti, kmu masih cinta ama dia?
Naomi: Udah aku bilang, aku gk mngkin cinta ama dia lagi

Hmmmm, sebuah pernyataan yg membingungkan. Posisi Naomi sangat sulit, tapi bagi Rama, ini juga menjadi sebuah dilema, karena secara jujur, Rama bisa melupakan Cindy karena hatinya perlahan2 diisi oleh Naomi. “Hufffttt, mngkin aku harus jujur nih, aku ungkapin aja deh”, kata Rama dalam hati.

Rama: Naomi, aku boleh jujur gak?
Naomi: Ya, kenapa?
Rama: Semenjak kita berkenalan, lambat laun aku bisa ngelupain Cindy, hingga kita ketemu tadi sore, aku benar2 ngelupain Cindy
Naomi: Kok bisa?
Rama: Ya, entah knp aku jadi kepikiran kamu
Naomi: Mksd aku, kok bisa secepat itu?
Rama: Nothing is impossible, and I believe in love at first sight
Naomi: Kamu jatuh cinta ama aku?
Rama: Hmmmm, aku tau ini konyol dan terlalu cepat, tapi kenyataannya, aku mulai jatuh cinta sama kamu
Naomi: Jujur, aku jg merasa nyaman sejak pertama kali ketemu sama kamu, entah knp, tapi …
Rama: Tapi kenapa?
Naomi: Aku belum bisa, aku gk mau kmu kecewa, perasaanku ama Stefan terkadang muncul
Rama: Ya udah, aku sabar nunggu kamu sampe kmu bener2 bisa memilih

Rama tampak begitu kecewa, batu yg digenggamnya tadi dilempar sejauh mungkin dan entah terjatuh dimana. Rama menarik nafas yg begitu dalam, kemudian mengambil sebuah daun yg telah mengering lalu diremasnya hingga hancur. Matanya kini menatap langit, menyaksikan indahnya taburan cahaya bintang yg agak redup karena terangnya cahaya lampu di Ibu Kota.

Naomi: Kamu kecewa ya?
Rama: itu manusiawi, sebagai seorang cowok, aku merasa ditolak
Naomi: Tapi itu bukan penolakan, katamu kamu mau nunggu
Rama: Ya, ini hanya reaksi sesaat aja kok
Naomi: Terima kasih ya, mau ngertiin aku

Rama pun tersenyum, disambut senyum pula oleh Naomi. “Jalan yuk, muter2, bosen di sini terus”, ajak Naomi sambil berdiri dan menyodorkan tangannya, menarik Rama yg masih duduk. Naomi, seorang gadis cantik dan mungil ini memiliki tenaga yg cukup besar. Kemudian mereka berdua pun berdiri lalu berjalan, menyusuri jalan setapak di taman yg sepi. Kendaraan masih lalu lalang di jalan raya. Mereka berdua terus berjalan. Wajah Rama masih cemberut, seakan2 masih belum mau menerima bahwa dirinya baru saja ditolak. Padahal itu bukanlah sebuah tolakan, hanya menyuruhnya untuk bersabar menunggu waktu yg tepat.

“Udah malem nih, pulang yuk”, ajak Rama. Ajakan ini disangka sebagai sebuah reaksi yg negatif dari Rama akibat ditolak oleh Naomi. “Udah bosen ya jln ama aku?” tanya Naomi ingin memastikan. Rama hanya terdiam, tak menjawab. Mereka masih melangkah dgn santai, namun suasananya berubah. Angin sepoi2 bertiup semilir meninggalkan rasa dingin di wajah mereka berdua. Mereka terus berjalan menyusuri jalan setapak sedari tadi. Rama diam seribu bahasa, dan tidak bisa menyembunyikan mimik wajah kecewa.

Naomi sesekali melihat ke arah Rama, dia terlihat kebingungan karena telah membuat Rama kecewa. “Ya udah deh, kita pulang ya, maaf udah buat kamu kecewa”, kata Naomi. Kemudian Naomi mempercepat langkahnya meninggalkan Rama. Rama hanya terdiam sesaat melihat Naomi meninggalkannya. Tak lama kemudian Rama mengejar Naomi, “Naomi, maafin aku, tapi yg ada di hatiku saat ini cuma kamu, aku hanya merasa jealous dgn Stefan krna kmu … mmmmpphhhh”, belum sempat Rama menyelesaikan kata2nya, tiba2 Naomi menyambar bibir Rama, menciumnya dgn lembut, Rama hanya tertegun dan belum sempat beraksi apapun tiba2 Naomi melepas ciumannya, kemudian berlalu pergi tanpa berkata sepatah katapun. Terlihat Naomi naik ke atas taksi yg ngetem di pinggir jalan.

Rama hanya terdiam, masih bingung dgn apa yg baru saja dialaminya. Entah berapa lama Rama terdiam, masih ada banyak pertanyaan yg belum sempat ditanyakan oleh Rama. Siapakah gadis ini sebenarnya? Sebuah tanda tanya besar kini muncul di benak Rama. “Jalani hidup apa adanya, jgn terlalu dipusingkan, ntar pusing beneran”, sebuah nasehat dari Jono kembali diingat oleh Rama. Diapun menghela nafas dalam, berusaha menenangkan pikirannya. Malam yg “tidak jadi” panjang.

Related Post