Cerita Sex

NaomiStory – Rama & Shinta – Part IV

Tak terasa gelap pun jatuh
Diujung malam menuju pagi yang dingin
Hanya ada sedikit bintang malam ini.
Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya

Sayup2 suara nyanyian yg liriknya benar2 dari hati itu masuk ke dalam telinga Rama mengiringi Naomi yang sedang berjalan keluar dari kamar mandi dan hanya dibalut handuk saja. Sebuah lampu remang2 dan kelambu yg menambah suasana romantis sedikit terbuka namun mengaburkan pandangan Rama. Tanpa bicara Naomi menanggalkan handuknya yg dibiarkan jatuh di lantai. Tubuh bugilnya berjalan menuju meja rias, bercermin sebentar lalu mengikat rambut.

Kemudian Naomi berjalan menuju ranjang yg ditutupi kelambu transparan. Rama yang sudah telanjang bulat siap dilayani oleh Naomi. Tubuhnya yg harum tercium menambah gairah yg sudah memuncak. Sentuhan tangan Naomi pada dada Rama membuat tubuh Rama sedikit bergetar menahan rasa geli yg menyerang. Terus naik ke atas, hingga dada mereka bertemu. Buah dada yg begitu lembut tertekan oleh dada bidang Rama. Mereka sedang memadu kasih, di atas ranjang dan bertiraikan kelambu, begitu romantis dan syahdu. Tubuh yg begitu mulus dan begitu indah itu akhirnya bersentuhan dengan tubuh Rama. Kulit mereka bertemu dan bergesek seakan2 sedang mengakrabkan diri.

Tangan Rama yg menjadi nakal karena terlanjur menyentuh kulit mulus di tubuh indah Naomi bermain liar di punggung Naomi. Mengelusnya dgn lembut kemudian terus turun, hingga akhirnya meremas bongkahan pantat Naomi. Seakan2 tidak mau kalah, Naomi beranjak naik lalu mendekatkan bibirnya di bibir Rama. Bibir mereka pun bertemu dan saling berpagutan. Ciuman yg awalnya biasa saja menjadi basah setelah lidah keduanya saling menerobos. Saliva saling bertukar menghadirkan kesegaran dan membangkitkan birahi keduanya.

Rama tampak berhati2 menyentuh pasangannya yg begitu lembut dan secantik bidadari itu. Wajah manisnya menghiasi mimpi indah Rama. Haaah? Apakah ini mimpi? Tiba2 percumbuan mereka pun buyar, dihapus oleh kesadaran yg tiba2 saja hadir di pikiran Rama. Rama pun terbangun kemudian melihat HPnya, ternyata pukul 2 dinihari. Rama mengumpat dalam hati, dia begitu kesal terhadap dirinya sendiri, karena tiba2 terbangun di saat yg tidak tepat. Mimpi indah yg terputus di tengah jalan hakikatnya adalah mimpi buruk. Padahal hampir saja dia memperoleh kenikmatan di alam mimpinya bersama wanita yg dikaguminya. Tapi entah kenapa, mimpi tersebut membuat Rama makin jatuh cinta pada Naomi.

Suasana malam menjelang pagi yg begitu hening dan sunyi, Kriiiiiinggg, tiba2 ada telpon yg masuk. Rama sempat terkejut, kemudian melihat HPnya, “Teh Ningsih”, ternyata dialah yg menelpon. “Halo, Rama, maaf bgt ganggu”, kata Ningsih dari telpon, “Gk apa2 kok, knp teh?” tanya Rama. “Bukain pintu donk, aku lupa bawa kunci nih”, pinta Ningsih. Rama pun keluar dari kamarnya, tanpa mengenakan baju, hanya memakai celana kolor, kemudian membuka pintu gerbang yg digembok dari dalam.

Rama sempat terdiam sesaat melihat Ningsih yg pulang dini hari mengenakan Dress ketat berwarna hitam, pendek dan tanpa lengan. Dari mulutnya tercium bau alkohol, kemudian Ningsih masuk ke dalam. Mata Rama tiba2 terfokus pada bokong Ningsih yg begitu bulat dan menonjol. Ahhhh dasar mata lelaki, gk bisa ngeliat barang bagus. Rama pun kembali ke kamarnya dan kemudian tidur. Tak sampai 5 menit, Rama kembali bangun, mengecek HP, siapa tau ada balasan dari Naomi untuk ucapan selamat tidurnya. Ternyata nihil, kemudian Rama pun kembali tidur.

Waktu terus berlalu, pertemuan demi pertemuan dijalani oleh Rama dan Naomi, tak terasa suasana kost menjadi sedikit lebih sepi dibanding sebelumnya semenjak kepergian Jono yang sudah mendapatkan pekerjaan jauh dan entah dimana. Teringat jelas saat perpisahaan para penghuni kost dan Jono yang terjadi penuh haru, air mata Yanti, Lilis, Ningsih, bahkan Hendro pun menangis. Kata-kata terakhir dari Jono sebelum kepergiannya kepada Rama adalah “Perjuangkan terus apa yang kamu yakini akan membuatmu bahagia”, kata2 dari Jono, membuat Rama terus memperjuangkan cintanya terhadap Naomi. Dan tibalah saat dimana Joseph mengantar Jono yang membawa tas berukuran besar ke terminal bis, dan mereka semua melambaikan tangan.

Bagaimana dengan hubungan Rama dan Naomi? Masih saja sama, belum ada kejelasan, Naomi tidak ingin Rama meninggalkannya dan berpaling ke wanita lain, sementara itu, dia juga masih belum bisa memberikan jawaban akan cinta Rama. Tapi, bagi Rama, itu adalah bagian dari perjuangan untuk mendapatkan cintanya. Beberapa kali mereka bertemu namun Rama masih belum bisa mengungkap siapa Naomi sebenarnya? Ataukah Rama hanya ingin menjaga perasaan Naomi yang tidak ingin diketahui lebih jauh lagi?

3 Maret 2018

Let it flow, biarkan mengalir seperti air, itulah yang ada di benak Rama saat sedang duduk di sebuah bangku taman yang sering dikunjunginya bersama Naomi. Ia berkali2 menghela nafas jika mengingat Stefan dan Naomi masih berhubungan seperti biasa walaupun Naomi sudah berkali2 menjelaskan pada Rama kalau mereka kini sudah menjadi teman biasa dan tidak lebih. Tapi perasaan jealous pasti ada, walaupun mereka tak pernah berstatus, tapi mereka pernah saling mencinta. Sebuah fidget spinner usang yang ditemukan tergeletak di jalan dan tak bertuan dimainkan dgn tangan kirinya. Semilir angin menerpa wajahnya menyejukkan jiwa yg sedang gundah gulana. Pikirannya terbang entah kemana namun matanya tetap menuju ke arah Naomi yg sedang antri membeli Ice Cream keliling.

Seekor kupu2 tiba2 hinggap di paha Rama. Sayapnya yg indah mengepak begitu pelan hingga akhirnya ia kembali terbang, seakan2 memberi pesan singkat kepada Rama tentang indahnya sebuah penantian kepompong untuk menjadi seekor kupu2 yang indah. “Nih, aku yg coklat, kmu yg stroberi ya”, tiba2 Naomi menghampiri Rama dan memberikan ice cream ala anak2 jaman dulu.

Ice cream yg lezat, dinginnya menyegarkan lidah. “Eh, ntar kita ketemu di Bandara aja ya, aku jalan jam 3 pagi”, kata Naomi kepada Rama. Mereka sudah berencana sejak Minggu lalu untuk menghabiskan liburan di Hari Minggu ke Jatim Park. Tiket pulang pergi sudah dipesan sejak 2 hari yang lalu. Mereka akan berangkat pagi hari dan kembali ke Jakarta pada malam hari.

Pukul 4 lewat 20 menit Sore Hari

Hari semakin sore, senja mulai nampak, semilir angin menjadi begitu sejuk, taman semakin ramai. Naomi mengenakan masker dan jaket hoodie seperti sedang menyembunyikan jati dirinya. Berkali2 Rama bingung dengan tingkah lakunya, namun hingga saat ini belum ada jawaban yg memuaskan dari Naomi. “Pulang yuk, biar bisa istirahat, besok harus bangun pagi2 bgt”, ajak Rama. Naomi pun mengiyakan, kemudian mereka berdua berdiri. Memesan ojek online masing2. Dan kemudian berpisah, pertemuan hari itu ditutup dengan kecupan mesra di dahi Naomi. Sebuah perilaku yg romantis, namun mereka bukanlah siapa2 dan belum memiliki status.

Setiba di Kost, Rama mengambil sebuah ransel, kemudian hanya membawa sebuah kaos dan celana pendek serta handuk kecil dan parfum. Kepergiannya kali ini hanya setengah hari. Ide gila ini muncul dari mulut Rama yg iseng mengajak Naomi jln2 ke Jatim Park karena melihat sebuah brosur di taman. Setelah itu Naomi lebih antusias terhadap ajakan tersebut.

Setelah mandi, Rama menemui Ningsih, memberitau bahwa dia akan ke Surabaya dini hari nanti. Rama pun merebahkan diri di kasurnya, sambil membayangkan Naomi. Sesosok wanita berparas cantik dan begitu lembut serta lincah. Lelaki mana yg tidak ingin mendekatinya? Rama merasa seperti digantung, karena selama ini perlakuan Naomi terhadapnya begitu mesra dan romantis, tapi Naomi tidak ingin membahas masalah cinta. Waktu berlalu, mata Rama pun terpejam. Sayup2 terdengar sebuah lagu dgn lirik Kamu lah yang memberitahu aku, tentang sinar di langit musim dingin, itulah rasi bintang orion pada hari kita berdua berpisah. Lirik itu mengantar Rama masuk ke alam mimpi.

Pukul 2 lewat 33 menit Dini hari

Kriiiiiingggg …. Suara alarm dari HP begitu memekikkan telinga Rama hingga ia terbangun. Kemudian ia mematikan alarm di HPnya dan masuk kamar mandi. Rama mengguyurkan air ke tubuhnya. Mandi tengah malam karena dia berpikir selama di Jatim Park tidak akan sempat untuk membersihkan diri. Beberapa saat kemudian Rama mengeringkan tubuhnya menggunakan handuk lalu memakai kaos polos berwarna kuning dan celana jeans serta sepatu converse ala2 anak muda masa kini. Rama keluar dari kamarnya dan ditemuinya Ningsih sudah menyiapkan sebuah sandwich dengan omelete dan daun kol yg diiris kecil serta tomat yg sudah dipotong2 serta susu coklat hangat.

Dilahapnya sandwich tersebut, lalu Rama pun berpamitan. Tiba2 Hendro keluar dari kamarnya, melihat ke arah Rama. “Rama, lu mau naik pesawat kan?” Tanya Hendro, “Iya Ndro, knp?”, jawab Rama, “Ntar aku mau nitip sesuatu” kata Hendro, kemudian kembali ke kamarnya dan beberapa saat kemudian lari mendekati Rama dan memberikan sebuah Foto. “Apaan nih?” tanya Rama, “Itu photopacknya Zara bro”, kata Hendro, “Buat apa nih?” tanya Rama dgn wajah kebingungan, “Ntar lu fotoin nih PP dgn latar belakang pesawat ya, trus kirim ke gw”, jawab Hendro. “Trus untuk apa?” tanya Rama kembali, “Aku mau mention Zara, aku mau bilang pergi keluar kota ditemani oleh foto dirimu”, kata Hendro kemudian disambut tertawaan oleh Rama dan Ningsih. Rama pun mengiyakan, kemudian memasukkan foto itu ke dalam sakunya.

Setelah kembali berpamitan, Ting, sebuah notifikasi di HP Rama berbunyi, setelah dibukanya ternyata itu chat dari Naomi, dia mengatakan bahwa dia dalam perjalanan menuju bandara. Ningsih pun membangunkan Joseph, beberapa menit kemudian Joseph pun terbangun kemudian mencuci muka dan mengambil kunci mobil. Joseph sudah janji sejak kemarin akan mengantarkan Rama ke Bandara, jadi dia menyempatkan diri meminjam mobil di temannya.

Pukul 3 lewat 30 menit Dini Hari

Mereka tiba di bandara, Rama memberikan uang kepada Joseph yg ditolaknya dgn tegas. Setelah turun dari mobil, Rama menelpon Naomi. “Halo, aku udah nyampe bandara nih, kmu di sebelah mana?”, tanya Rama, “Nih aku di depan Ma** Coffee, coba liat ke arah kanan”, jawab Naomi. Kemudian Rama melihat seorang gadis cantik melambaikan tangannya memberi tanda memakai gaun tanpa lengan dan rok mengembang selutut berwarna hitam, ya dialah Naomi. Lalu Rama berjalan ke arahnya kemudian memesan secangkir coklat hangat, sama seperti yg dipesan oleh Naomi. Keduanya duduk sambil menikmati coklat hangat terlebih dahulu lalu kemudian masuk ke dalam ruang tunggu penerbangan.

Singkat cerita, Rama dan Naomi berjalan menuju pesawat. Karena mau menepati janjinya, Rama mengeluarkan foto Zara kemudian di potretnya menggunakan HPnya dgn latar belakang pesawat. Naomi terkejut melihat foto tersebut. “Eh kmu ngapain? Kamu koleksi gituan? Itukan PP Zara?”, tanya Naomi dgn wajah yg penuh curiga. “Ini personil JKT48, temenku nitip minta difotoin dgn latar belakang pesawat, katanya mau di mention ke orangnya” jawab Rama. Kemudian Naomi tersenyum lega dan wajah curiganya seketika hilang. “Kok tau klo ini Zara? Kamu suka JKT48 juga ya?” tanya Rama kembali. Naomi menarik tangan Rama menuju pesawat tanpa menjawab pertanyaannya.

Seorang pramugari memeragakan cara memakai sabuk keselamatan serta intruksi2 lainnya. Mesin pesawat menderu, pilot sudah memberi aba2 bahwa pesawat akan diterbangkan dan beberapa saat kemudian, pesawat tinggal landas meninggalkan Kota Jakarta. Naomi duduk di tepi jendela dan Rama di sebelahnya, sementara seorang ibu2 duduk di samping Rama.

Naomi mengeluarkan selimut dari tasnya kemudian dipakai berdua. Naomi dan Rama tertidur di balik hangatnya selimut di atas pesawat yg sedang terbang menuju Kota Surabaya. Sebuah suara dari pilot yg memberitau penumpang bahwa pesawat akan segera landing membangunkan mereka berdua. Ternyata posisi tidur Naomi yg berada di bahu Rama membuat lengan bajunya menjadi basah karena air liur yg menetes saat tertidur pulas tadi. “Ihh maaf, maaf bgt” kemudian Naomi mencari selembar tisu dari dalam tasnya, “Gak apa2 Naomi, udah gpp”, kata Rama yg kemudian menyentuh dagu Naomi lalu membersihkan sisa2 air liurnya yg menetes tadi. Mereka saling bertatapan hingga akhirnya pesawat mendarat dengan sempurna di Bandara Juanda Surabaya.

Mereka berdua turun, antri satu persatu dgn penumpang lainnya. Lalu kembali bergandengan tangan saat sudah berada di luar pesawat. Suasana pagi yg begitu sejuk, sungguh nikmat menghirup udara pagi bersama orang terkasih. Sebuah mobil yang telah dipesannya melalui internet sudah menunggu di jalur kedatangan. Memegang papan bertuliskan Rama & Shinta, ya nama kepanjangan Naomi adalah Shinta Naomi Prasetya.

Mereka berdua berjalan menuju sebuah mobil Ertiga yg sudah siap di parkiran. “Selamat pagi Mas, Mbak, sekarang kita langsung ke Jatim Park atau sarapan dulu?”, tanya driver kepada Rama dan Naomi. Setelah berdiskusi singkat akhirnya mereka berdua memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu, karena jam tangan masih menunjukkan pukul 5 lewat 20 menit.

Setelah hampir 30 menit perjalanan, akhirnya driver pun belok dan masuk ke sebuah restoran lokal di Sidoarjo. Rama dan Naomi turun lalu memesan makanan. Mereka sarapan pagi dengan lahapnya, kemudian berbincang sebentar lalu kembali mengecek jadwal penerbangan mereka malam nanti. “Eh kamu belum jawab, kok kmu tau Zara? Kamu fans JKT48 juga kah?”, tanya Rama, “Hmmm, gk juga, cuma tau aja sih”, jawab Naomi. Terlihat wajah Rama begitu ingin membahas tentang cinta, namun di lain sisi, dia tidak ingin merusak liburannya kali ini, karena dia khawatir akan membuat Naomi ilfeel dengannya.

Hampir 1 jam mereka berbincang, lalu kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan ke Jatim Park. Sebuah perjalanan yg lumayan panjang. “Mas ama Mbak ini lagi bulan madu ya? Atau masih pacaran?”, tanya driver tersebut. Rama dan Naomi saling pandang, kemudian Naomi mengambil inisiatif untuk menjawabnya, “Mmmm doain aja ya Pak”, jawab Naomi. Sebuah jawaban yg membingungkan, apakah maksudnya Naomi minta didoakan agar mereka berdua menjadi pasangan suami istri? Rama bingung namun terselip perasaan bahagia mendengar perkataan itu.

Waktu pun terus berlalu, hampir 3 jam kemudian tepat di pukul 9 lewat 30 akhirnya mereka tiba di Jatim Park II. Loket sudah terbuka walaupun pintu utama masih tertutup karena mereka buka mulai pukul 10 pagi. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya mereka mulai masuk. Dimulai dari memasuki Museum Satwa. Rama dan Naomi melihat2 peninggalan sejarah masa lalu.

Mereka berjalan dan begitu antusias melihat2 apa yg ada di museum satwa. Naomi tampak kegirangan, menikmati liburan, ia terkadang berlari kecil melihat sesuatu yg baru, kemudian selfie, dan terkadang menari dan berputar. Banyak mata tertuju padanya, terutama para pria yg terpesona akan kecantikannya dan gerak tubuhnya. Rama hanya tersenyum melihat tingkah lakunya yg menggemaskan itu.

Setelah beberapa lama menghabiskan waktu di Museum, Rama dan Naomi masuk ke dalam Batu Secret Zoo, sebuah kebun binatang yg merupakan bagian dari Jatim Park II. Mereka melihat hewan2 koleksi Jatim Park. Bermain, berfoto, memberi makan dan saling takut menakuti adalah apa yg dilakukan oleh mereka berdua. Sebuah liburan yg jauh dari kata mesra namun romantis. Terkadang Naomi memeluk lengan Rama lalu menyenderkan kepalanya di Bahu rama, seakan2 tidak ingin ditinggal olehnya.

Setelah melihat berbagai jenis hewan di tempat ini, mereka berdua akhirnya menuju wahana permainan. Sebuah tempat yg konyol bagi Rama karena para pengunjung membayar untuk ditakuti atau melawan rasa takut. Mereka berdua menikmati rasa takut, saling berpegangan, terkadang saling berpelukan, tampak begitu mesra bagaikan sepasang kekasih yg sedang dimabuk cinta.

Keindahan dan kesenangan selalu berakhir dengan cepat, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Padahal pesawat mereka adalah pukul 9 malam. Mereka berdua memutuskan untuk berkunjung ke Jungle Fast Food, sebuah restoran yg terletak di dalam Jatim Park II. Rama dan Naomi memesan makanan dan minuman yg sama. Mereka berdua menikmatinya dan menghabiskannya lalu kembali ke mobil. Driver yg sedang tidur di dalam mobil dibangunkan oleh Rama. Mobil dipacu oleh driver, menyusuri jalan di Kota Batu hingga kemudian Naomi melihat sebuah tempat. “Pak itu apaan?”, tanya Naomi, “Itu BNS, asik lohh, mau mampir?” kata Driver. Akhirnya Naomi mengiyakan dan mereka pun masuk ke parkiran BNS.

Batu Night Spectacular, sebuah tempat yg asik, diisi oleh banyak wahana permainan. Banyak orang bermain di tempat ini. Rama dan Naomi berjalan bergandengan tangan dgn langkah yg sedikit lambat. Energi mereka terkuras saat menikmati berbagai wahana di Jatim Park II. Mereka membeli tiket kemudian masuk ke dalam. Melihat2 ke sekitar, sebuah tempat rekreasi yg sangat asik. Mereka mencoba permainan satu per satu. Rasanya hampir sama dgn Jatim Park II hingga akhirnya mereka menemukan sebuah tempat yg sangat asik. Itulah Taman Lampion.

Ada sangat banyak lampion berbagai bentuk, bahkan ada yg berbentuk istana. Benar2 memanjakan mata mereka berdua. Begitu banyak spot foto yg sangat sayang untuk dilewatkan. Rama dan Naomi mengabadikan kemesraan mereka di taman itu. Sungguh tempat yg romantis. Suasana senja pergantian hari semakin nampak begitu syahdu dan menenangkan jiwa.

Angin bertiup sepoi2 menerpa tubuh hingga menyingkap sedikit rok Naomi ke atas yg kemudian ditahan dgn tangannya sendiri lalu tersenyum ke arah Rama yg sejak tadi memperhatikan gerak geriknya. Senja mulai menghilang, tak terasa jam tangan sudah menunjukkan pukul 7 malam. “Ehhh, udah jam 7, pesawat kitaa?”, tanya Naomi dgn intonasi suara yg cukup keras. Mereka berdua berlari menuju parkiran, tiba2 masuk ke dalam mobil. “Pak ke Bandara Juanda ya, yg ngebut ya Pak”, kata Rama. “Siap Bos”, kata sang Driver yg dengan cekatan keluar dari BNS lalu menginjak pedal gas dgn kencang menuju arah Bandara.

Naomi merebahkan kepalanya di lengan Rama. “Maaf Mas, pesawatnya jam brp ya?”, Tanya Driver. “Jam 9 ini Pak, makanya ngebut ya Pak”, jawab Rama. “Waduh Pak, mohon maaf bgt, perjalanan kita butuh 3 jam, gak akan sempet”, kata Driver. Kemudian Naomi terbangun dan sangat terkejut. Mereka berdua seakan2 tidak percaya dan memberi semangat pada driver untuk benar2 ngebut. “Maaf Mas, Mbak, sengebut2nya kita, paling banter 2 jam baru sampe, Surabaya jauh banget”, kata Driver. Lalu Naomi dan Rama saling tatap, seakan tak percaya kalau mereka akan ketinggalan pesawat. Wajah Naomi begitu sedih dan seperti ingin nangis.

Rama meraih pundak Naomi lalu menarik kepalanya agar kembali rebahan di bahunya. “Kira2 solusinya gmna ya Pak? Berarti kita tetep ketinggalan pesawat ya?”, tanya Rama. “Mending cari hotel sekitar Surabaya aja, trus cari penerbangan yg lain, mau dipaksakan jg gak akan bisa Mas”, jawab si Driver. Rama dan Naomi saling pandang, mencoba berpikir dan mencari solusi yg terbaik bagi mereka berdua.

Setelah sampai di Kota Surabaya, ternyata sudah menunjukkan pukul 9 lewat 10 menit, yg artinya pesawat telah berangkat 10 menit yg lalu. Mereka berdua seakan2 putus asa, wajah mereka murung. “Mas Mbak, la wong lagi berduaan kok murung sih, mending cari hotel aja, nikmati kota Surabaya satu hari lagi, tiket bisa dibeli lagi kan, masak calon suami istri murung gitu”, kata Driver. Naomi tersenyum mendengar perkataannya, lalu diikuti oleh senyum dari Rama.

Akhirnya mereka berdua setuju untuk menginap di sebuah hotel. Driver mengantar mereka ke Hotel Ama*is di Surabaya. Naomi duduk di sofa yg terletak di lobby hotel, sementara Rama memesan kamar. Mereka setuju untuk sekamar namun mencari kamar yg twin bed, artinya ranjang terpisah. Namun apa daya, kamar jenis tersebut sudah full book dan hanya tersisa yg double bed, atau seranjang. Setelah diskusi cukup panjang, akhirnya mereka setuju dgn catatan, Rama tidur di sofa.

Rama pun memesan kamar tersebut, lalu seorang petugas hotel mengantar dan membawakan barang mereka. Mereka bertiga menaiki lift kemudian berhenti di lantai 4 dan masuk ke kamar 408. Petugas hotel menaruh barang, menyalakan AC kemudian menyalakan TV dan meninggalkan ruangan. Tidak lupa Rama memberinya uang tips. “Selamat beristirahat”, kata petugas hotel tersebut. “Huhhhh akhirnya, ketemu kasur”, kata Naomi yg tiba2 loncat ke atas kasur, tanpa sadar roknya tersingkap hampir saja memperlihatkan cd nya. Kalau boleh jujur, dalam hati kecil Rama, dia sangat mengharapkan ketinggalan pesawat kali ini, sehingga kali ini dia berada di satu kamar bersama gadis pujaannya.

Related Post